SELAMAT DATANG DI BLOG GANTOLLE DALEM BANDUNG

Selasa, 12 Januari 2010

Awan cirrus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Awan cirrus
Awan cirrus adalah awan tinggi dengan ciri-ciri tipis, berserat seperti bulu burung. Pada awan ini terdapat kristal-kristal es. Terkadang puncak awan cirrus bergerak dengan cepat. Arah anginnya juga dapat bervariasi.
Awan Cirrus terbentuk ketika uap air membeku menjadi kristal es pada ketinggian diatas 8000 meter.[1]

[sunting] Referensi

[sunting] Pranala luar

Wikimedia Commons
Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Awan cirrus

Awan Kumulus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Cumulus clouds panorama.jpg
Awan Kumulus adalah awan yang bentuknya seperti bunga kol. Awan ini terjadi karena proses konveksi. Secara lebih rinci awan ini terbagi dalam 3 jenis, yaitu: strato kumulus yaitu awan kumulus yang baru tumbuh, kumulus, dan kumulonimbus yaitu awan kumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan kumulus yang bergabung menjadi satu.

Awan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Awan
Awan adalah gumpalan uap air yang terapung di atmosfir. Ia kelihatan seperti asap berwarna putih atau kelabu di langit.

Pembentukan awan

Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Peluapan ini bisa terjadi dengan dua cara:
  1. Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih cepat menyejat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
  2. Suhu udara tidak berubah, tetapi keadaan atmosfir lembap. Udara makin lama akan menjadi semakin tepu dengan uap air.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarik bumi menariknya ke bawah. Hingga sampai satu titik dimana titik-titik air itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.
Jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap dan awan menghilang. Inilah yang menyebabkan itu awan selalu berubah-ubah bentuknya. Air yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan mencair. Inilah juga yang menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak membawa hujan.

Jenis-jenis awan

awan menurut bentuknya terbagi menjadi beberapa jenis :
Awan di atas Jakarta.JPG
  1. Awan Commulus, yaitu awan yang bergumpal dan bentuk dasarnya horizontal
  2. Awan Stratus, yaitu awan tipis yang tersebar luas dan menutupi langit secara merata
  3. Awan Cirrus, yaitu awan yang berdiri sendiri, halus dan berserat, sering terdapat kristal es tetapi tak menimbulkan hujan

Minggu, 10 Januari 2010

TINTIN STORY

Borduria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Borduria adalah sebuah negara fiktif dalam serial komik Petualangan Tintin karya Hergé. Negara ini terletak di Semenanjung Balkan dan berseteru dengan negara tetangganya yang juga fiktif Syldavia. Borduria diperlihatkan di buku Tongkat Raja Ottokar dan Penculikan Calculus, dan disebutkan dalam cerita Tintin dan Picaros. Dalam buku-buku komik ini, negara ini digambarkan seperti negara-negara Eropa Timur pada umumnya.
Bendera Borduria yang lama.
Dalam buku Tongkat Raja Ottokar, Tintin membaca sebuah pamflet pariwisata Syldavia yang mengungkapkan sejarah awal Syldavia dan hubungannya dengan Borduria. Di tahun 1195, Borduria menjajah negara tetangganya, Syldavia, yang berlangsung hingga tahun 1275 ketika Baron Almazout berhasil mengusir tentara Borduria dan kemudian mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja Ottokar I. Di cerita-cerita Petualangan Tintin lainnya, perseteruan abadi ini terus berlangsung dengan Borduria selalu berusaha untuk menyerang atau menjajah Syldavia. Angkatan Udara Borduria menggunakan pesawat tempur yang sangat mirip dengan pesawat Messerschmitt Bf 109 yang digunakan oleh Jerman dalam Perang Dunia II.
Dalam cerita Tongkat Raja Ottokar (ditulis oleh Hergé di tahun 1939) menggambarkan sebuah usahaya yang gagal dari pihak Borduria untuk melancarkan kudeta terhadap Syldavia dengan cara mencoba menggulingkan sang raja dan menginvasi negara tersebut dengan bantuan para simpatisan Borduria di Syldavia.
Bendera Borduria yang baru.
Dalam cerita Penculikan Calculus (1956), Borduria digambarkan sebagai sebuah negara Blok Eropa Timur yang umum pada era ditulisnya cerita itu, lengkap dengan kesatuan polisi rahasinya (ZEP) dan seorang diktator militer bernama Kurvi-Tasch yang mengembangkan ideologi "taschist". Sebuah patung Kurvi-Tasch digambarkan berada di depan sebuah gedung pemerintahan dimana patung tersebut memiliki kumis yang mirip dengan kepunyaan Joseph Stalin dan tangannya memberikan salam hormat gaya Nazi. Militer Borduria masa itu digambarkan memiliki penguasaan teknologi yang rendah - terbukti dengan tidak mampunya mereka untuk menghentikan sebuah tank yang dicuri dan dikemudikan oleh Tintin dan teman-temannya, akibat ranjau-ranjau dan senjata anti-tank yang rusak.
Dalam Tintin dan Picaros (1976), sebuah negara republik Amerika Selatan bernama San Theodoros yang diperintah oleh Jenderal Tapioca, telah membentuk aliansi dengan pemerintah Borduria yang telah mengirimkan para penasehat militernya, termasuk diantaranya Kolonel Sponsz. Dalam sebuah halaman yang digambar oleh Hergé namun tidak diterbitkan dalam cetakan buku, patung setengah badan Kurvi-Tasch dapat terlihat di dalam sebuah kantor milik seorang kolonel San Theodoros. Nantinya, Jenderal Tapioca akan digulingkan oleh salah seorang teman Tintin bernama Jenderal Alcazar, dan Kolonel Sponsz akan dikirim ke pembuangan.

Lambang Negara, Kebudayaan dan Bahasa

Dalam Penculikan Calculus, kumis Kurvi-Tasch digunakan sebagai lambang negara Borduria, berada di bendera negara, bentuk arsitektur gedung, bentuk lis mobil buatan Borduria (seperti mobil pelarian Tintin dalam Penculikan Calculus), dan bahkan sebagai imbuhan simbol pada beberapa konsonan kata dalam Bahasa Borduria. Anggota polisi dan pejabat pemerintah mengenakan pita lengan berwarna merah dengan gambar lambang negara kumis berada di tengah-tengah lingkaran putih. Motif pita lengan ini sangat mirip dengan apa yang dikenakan oleh berbagai anggota organisasi di Jerman di bawah rezim Nazi. Bahkan Hotel Zsnorr di Szohôd dimana Tintin menetap namanya ternyata merujuk pada kumis (snor dalam Bahasa Belanda berarti kumis dan Hergé mampu berbahasa Belanda). Dalam Tintin dan Picaros, logo kumis Taschist dapat terlihat di dekorasi gedung-gedung San Theodoros.
Dalam Tongkat Raja Ottokar, bendera Borduria berwarna hitam dengan sebuah lingkaran marah dan dua segitiga hitam di dalamnya. Dalam Penculikan Calculus, warnya merah dan terdapat logo kumis Kurvi-Tasch di atasnya.
Seperti Syldavia, Borduria juga memiliki Islam sebagai salah satu agama di negara itu: dalam Penculikan Calculus, sebuah menara masjid dapat terlihat di belakang gedung-gedung modern yang mengelilingi patung Kurvi-Tasch. Arsitektur lainnya menampilkan bangunan-bangunan bergaya gedung-gedung tua Yugoslavia dan gedung-gedung modern negara Komunis.
Buku-buku komik Tintin menampilkan Bahasa Borduria dalam fragmen-fragmen kecil. Seperti Bahasa Syldavia, bahasanya sepertinya berasal dari dialek Marols dalam Bahasa Flemish Brussels, seperti kata "mänhir" untuk "mister" atau tuan (Bahasa Flemish "mijnheer").

SOARING

SOARING

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Glider modern melewati garis akhir
Gliding (atau soaring) adalah sebuah aktivitas rekreasi dan olah raga kompetitif di mana individu menerbangkan sebuah pesawat yang tak bertenaga dikenal sebagai glider atau pesawat layang. Sebenarnya, istilah gliding menunjuk ke penerbangan ke arah bawah dari sebuah pesawat lebih berat dari udara ketika gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja; soaring adalah istilah yang lebih cocok untuk digunakan ketika pesawat mendapatkan ketinggian atau kecepatan dari gerakan atmosfer pada saat terbang.
Kata soaring juga digunakan untuk menggambarkan cara burung dapat tetap terbang tanpa mengepakan sayapnya; mekanika dari proses ini dijelaskan dalam artikel penerbangan burung, dan artikel ini memfokuskan pada kegiatan.


Selasa, 05 Januari 2010

GPS

Global Positioning System

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Gambaran satelit GPS di orbit
Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS anatara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India.
Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS).[1] Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun,[2] termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.

Daftar isi

[sembunyikan]

Kegunaan

  • Militer
    GPS digunakan untuk keperluan perang, seperti menuntun arah bom, atau mengetahui posisi pasukan berada. Dengan cara ini maka kita bisa mengetahui mana teman mana lawan untuk menghindari salah target, ataupun menetukan pergerakan pasukan.
  • Navigasi
    GPS banyak juga digunakan sebagai alat navigasi seperti kompas. Beberapa jenis kendaraan telah dilengkapi dengan GPS untuk alat bantu nivigasi, dengan menambahkan peta, maka bisa digunakan untuk memandu pengendara, sehingga pengendara bisa mengetahui jalur mana yang sebaiknya dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Sistem Informasi Geografis
    Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis, GPS sering juga diikutsertakan dalam pembuatan peta, seperti mengukur jarak perbatasan, ataupun sebagai referensi pengukuran.
  • Sistem pelacakan kendaraan
    Kegunaan lain GPS adalah sebagai pelacak kendaraan, dengan bamtuan GPS pemilik kendaraan/pengelola armada bisa mengetahui ada dimana saja kendaraannya/aset bergeraknya berada saat ini.
  • Pemantau gempa
    Bahkan saat ini, GPS dengan ketelitian tinggi bisa digunakan untuk memantau pergerakan tanah, yang ordenya hanya mm dalam setahun. Pemantauan pergerakan tanah berguna untuk memperkirakan terjadinya gempa, baik pergerakan vulkanik ataupun tektonik

Sistem lain

Artikel utama: Sistem navigasi satelit
Sistem navigasi satelit lainnya yang sedang dikembangkan oleh negara lain adalah:

Referensi

  1. ^ Parkinson, B.W. (1996), Global Positioning System: Theory and Applications, chap. 1: Introduction and Heritage of NAVSTAR, the Global Positioning System. pp. 3-28, American Institute of Aeronautics and Astronautics, Washington, D.C.
  2. ^ GPS Overview from the NAVSTAR Joint Program Office. Accessed December 15, 2006.

Senin, 04 Januari 2010

Rogallo wing

Rogallo wing

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search


The Rogallo flexible wing is a self-inflating system that was tested for the Gemini space capsule recovery.

Paresev, tested by NASA for spacecraft landing research.
The Rogallo wing is a flexible type of airfoil. In 1948, Gertrude Rogallo, and her husband Francis Rogallo, a NASA engineer, invented a self-inflating flexible wing they called the Parawing, also known as the Rogallo Wing and flexible wing.[1] NASA considered Rogallo's flexible wing as an alternative recovery system for the Gemini space capsule for possible use in other spacecraft landings, but the idea was dropped in 1964 in favor of using round parachutes.

Contents

[hide]


Construction

A Rogallo wing is composed of two partial conic surfaces with both cones pointing forward. Slow Rogallo wings have wide, shallow cones. Fast subsonic and supersonic Rogallo wings have long, narrow cones. The Rogallo wing is a simple and inexpensive flying wing with remarkable properties. The wing itself is neither a kite, a glider, or a powered aircraft until the wing is tethered or arranged in a configuration that glides or is powered; that is, a holding system lets the wing be a specific type of aircraft. The Rogallo wing is most often seen in toy kites, but has been used to construct spacecraft parachutes, sport parachutes, ultralight powered aircraft like the trike and hang gliders. Rogallo had more than one patent concerning his finding; cylindrical formats, more-than two-lobes, various stiffenings, various nose angles, etc. were involved in his due-diligent expansion of his invention. The Charles Richard design and use of the Rogallo wing in the Paresev project resulted in an assemblage that became the stark template for what would blanket the world of hang gliding in the early 1970s on the Standard Rogallo hang glider.
Furthermore, the fact that the wing is designed to bend and flex in the wind provides favorable dynamics analogous to a spring suspension. Flexibility allows the wing to be less susceptible to turbulence and provides a gentler flying experience than a similarly sized rigid-winged aircraft. The trailing edge of the wing -which is not stiffened- allows the wing to twist and provides aerodynamic stability without the need of a tail (empenage).

Rogallo wing hang glider

In 1961-1962 aeronautical engineer Barry Palmer foot-launched several versions of a framed Rogallo wing hang glider to continue the recreational and sporting spirit of hang gliding. Another player in the continuing evolution of the Rogallo wing hang hang glider was Australian John Dickenson, who in 1963 set to build a controllable water skiing kite/glider. Publicity from the Paresev tested and flown hang gliders sparked interest in the design among several tinkerers, including John Dickenson.[2]
Dickenson fashioned an airframe to fit on a Rogallo airfoil.[3][4] Dickenson built a model based on the 'flexile wing' principle with a single hang point on an A frame:[2][5] He started with a framed Rogallo wing airfoil and added at first a U-frame (later an A-frame control bar) to it; it was composed of a keel, leading edges, a cross-bar and a fixed control frame. Weight-shift (mass-shift) was also used to control the glider. The flexible wing called Ski Wing was first flown in public at the Grafton Jacaranda Festival in September 1963 by Rod Fuller while towed behind a motorboat.
The 'Australian Self-Soar Association' states that the first foot-launch of a hang glider in Australia was in 1972. In Torrance, California, Bill Moyes was assisted in a kited foot-launch by Joe Faust at a beach slope in 1971 or 1972. Moyes went on to build a company with his own Moyes trade-named Rogallo wing hang gliders also using the trapeze control frame he had seen in Dickenson's and Australian manned flat-kite ski kites. Bill Moyes and Bill Bennett exported new refinements of their own hang gliders throughout the world.
The parawing hang glider was inducted into the Space Foundation Space Technology Hall of Fame in 1995.[citation needed]

Control

Rogallo wing hang glider

Hang gliders have been used with different forms of weight-shift control since Otto Lilienthal. The most common way to shift the center of gravity was to fly while suspended from the underarms by two parallel bars. Gottlob Espenlaub (1922), George Spratt (1929) and Barry Palmer (1962) used pendulum seats for the pilot. Interaction with the A-frame for hang gliders, trikes, and ultralights, provided various means of control of the Rogallo winged hang glider.
Today, most Rogallo wings are also controlled by changing their pitch and roll by means of shifting its center of gravity. This is done by suspending the payload from one or more points beneath the wing and then moving the pendulumed mass of the payload (pilot and things else) mass left or right or forward or aft. Several control methods were studied in NASA for Rogallo wings from 1958 through the 1960s embodied in different versions of the Parawing.
On Rogallo wing hang gliders, John W. Dickenson used a type of weight-shift control frame composed of a mounted triangular control frame under the wing. The pilot sat on a seat and was sometimes also harnessed about the torso. The pilot was suspended behind the triangular control frame which was used as a hand support to push and pull in order to shift the pilot's weight relative to the mass and attitude of the wing above.

Rogallo kites

Rogallo wing kites control pitch with a bridle that sets the wing's angle of attack. A bridle made of string is usually a loop reaching from the front to the end of the center strut of the A-frame. The user ties knots (usually a cow hitch) in the bridle to set the angle of attack. Mass-produced rogallo kites use a bridle that's a triangle of plastic film, with one edge heat-sealed to the central strut.
Steerable Rogallo kites usually have a pair of bridles setting a fixed pitch, and use two strings, one on each side of the kite, to change the roll.
Rogallo also developed a series of soft foil designs in the 60's which have been modified for traction kiting. These are double keel designs with conic wings and a multiple attachment bridle which can be used with either dual line or quad line controls. They have excellent pull, but suffer from a smaller window than more modern traction designs. Normally the #5 and #9 alternatives are used.

Early Rogallo Patents



Gertrude and Francis Rogallo's original patented flexible wing

See also

References

External links